[:id]7 Kesalahan Persepsi Tentang Sertifikat Halal MUI[:en]7 Mistake Perceptions About Halal Certificate MUI[:]

Photo of author

[:id]HALALCORNER.ID, JAKARTA – Ketika sebuah produk sudah memiliki sertifikat Halal, setiap muslim tentu akan merasa lega dalam mengkonsumsi produk tersebut. Tapi terkadang, ada kesalahan-kesalahan persepsi yang mengiringi sebuah kehalalan produk.

Berikut akan dipaparkan 7 kesalahan persepsi tentang sertifikat Halal yang banyak beredar di masyarakat.

  1. Masa berlaku sertifikat halal

Banyak yang menganggap jika sebuah brand sudah memiliki sertifikat Halal, maka selamanya akan Halal. Padahal yang benar adalah sertifikat halal MUI hanya berlaku selama 2 tahun. Kemudian sesudahnya harus diperpanjang jika tidak ada perubahan komposisi dan harus di audit ulang jika ada perubahan bahan baku atau prosesnya.

Bahkan di negara lain kebanyakan melakukan ketentuan lebih ketat dengan berlakunya sertifikat Halal yang hanya selama 1 tahun. Sebuah brand yang awalnya memiliki sertifikat Halal bisa saja kemudian kehilangan atau tidak memiliki sertifikat Halal lagi karena di audit berikutnya memuat bahan yang tidak lolos pemeriksaan Halal.

Itulah pentingnya kita selalu teliti mengecek logo Halal pada kemasan, karena brand yang sudah tidak memiliki sertifikat Halal, tentu tidak bisa memasang logo halalnya lagi pada kemasannya.

  1. Sertifikat Halal nasional dan provinsi

Seringkali banyak brand yang mempunyai banyak cabang di daerah namun belum berinisiatif untuk membuat sertifikat Halal secara nasional yang berlaku di semua outlet atau biasa disebut SJH (sistem jaminan halal). Biasanya ada beberapa outlet yang berinisiatif untuk menghalalkan outletnya sendiri yang mana kehalalannya hanya berlaku di provinsi tertentu saja.

Namun, kesalahan persepsi yang terjadi adalah ketika sertifikat lokal provinsi tersebut diakui secara nasional. Hal ini menjadi salah kaprah, mengingat kesamaan bahan bukan berarti lantas semua outlet menjadi sama halalnya. Karena untuk memiliki sertifikat Halal nasional, kehalalan bukan hanya dicek dari bahan melainkan proses dan pengemasan/penyajian.

Jadi apabila di outlet lain dalam proses dan penyajian terkontaminasi sesuatu yang tidak Halal, maka sertifikat Halal di outlet provinsi lain tidak bisa menjamin. Karena itulah, suatu brand dengan banyak outlet di sarankan memiliki sertifikat Halal nasional agar menjamin Halal keseluruhan outletnya. Dengan demikian customer akan lebih tenang menyantap di outlet cabang mana saja.

  1. Bahan Halal tidak menjamin Halal produk

Suatu produk, bisa saja mengklaim vegan atau herbal dengan semua bahan alami yang Halal. Atau mengklaim tidak mengandung babi dan alkohol. Hanya terkadang bisa saja dalam prosesnya terbentuk alkohol sehingga menjadi tidak Halal di konsumsi.

Contohnya adalah bumbu masak angciu, angciu terbuat dari sari tapai beras, tapai adalah makanan Halal namun ketika sudah menjadi angciu produknya akan mengandung alkohol dan menjadi khamr. Karena itu angciu tidak halal dikonsumsi.

Atau ketika dalam prosesnya, produk tersebut berlokasi yang sama dengan produk lain yang mengandung bahan tidak Halal, maka terjadi kontaminasi yang menyebabkan produk menjadi tidak Halal. Karena itulah banyak produk herbal/vegan pun saat ini membuat sertifikat halal pada produknya untuk menjamin kenyamanan konsumen dalam mengkonsumsinya. Jadi sertifikat Halal memang memudahkan masyarakat untuk mencari produk yang Halal dari hulu hingga ke hilir.

  1. Varian Halal tidak menjamin keseluruhan Halal.

Umumnya hal ini terjadi pada brand dengan banyak varian produk. Seperti misalnya kosmetik, adanya sertifikasi Halal pada beberapa variannya seperti pada lipstick atau skincare tidak menjamin semua produk yang berada dibawah brand yang sama akan menjadi Halal, karena terkadang dalam satu brand ada produk yang didaftarkan sertifikasi Halal dan ada pula yang tidak.

Begitu pula makanan yang ada di restoran, bisa saja yang Halal hanya saus tomatnya atau kopinya saja dan tidak serta merta restorannya memiliki sertifikat Halal. Melainkan hanya produknya yang terlampir saja yang sudah pasti halal.

Pernah juga terjadi pada brand bakery, ternyata pada bakery tersebut hanya varian rotinya yang Halal, sedangkan pada cake-nya masih menggunakan rhum pada pembuatannya, sehingga untuk produk cake dipastikan tidak termasuk produk Halal meskipun untuk varian roti sudah memiliki sertifikasi Halal.

  1. Kosmetik Halal, semua sah untuk berwudhu?

Dalam kosmetik Halal, yang di halalkan adalah produknya, bukan berarti menghilangkan sifat produknya. Hal ini berlaku untuk segala produk waterproof. Seperti misalnya kutek dan maskara. Secara produk, bisa saja produk ini sudah memiliki sertifikat halal. Tapi tetap saja dikarenakan sifatnya adalah waterproof, air tidak bisa menembus kulit ketika berwudhu. Walaupun tidak masalah jika digunakan beribadah.

Solusinya mudah, misalnya dengan menggunakan kosmetik yang bisa di tembus air wudhu, menggunakan make up yang luntur ketika terkena air sehingga mudah untuk berwudhu. Atau bisa pula dengan menghapus make up terlebih dahulu sebelum berwudhu.

Baca juga : Maya kutek halal

  1. Zero alkohol = Halal?

Sekarang marak produk mengklaim zero alkohol. Hal ini dikatakan untuk memfasilitasi mereka yang ingin merasakan minuman yang sedianya beralkohol agar bisa dinikmati tanpa mabuk. Sesuai dengan peraturan MUI,  produk yang namanya menyerupai yang haram maka tidak bisa diberikan sertifikat Halal.

Baca juga : Sampanye zero alkohol

Ketika akan memeriksa kehalalan suatu makanan dan kosmetik, jika tidak tertera logo Halal. Biasanya orang akan melakukan cek pada bahan baku yang tertera di kemasan. Biasanya yang di curigai hanya yang jelas tertera kandungan babi seperti procine, swine, pork atau boar. Atau tertera kandungan alkohol atau rhum atau produk beralkohol lainnya.

Padahal kehati-hatian, bisa juga kita cermati melalui bahan lainnya. Seperti pewarna, emulsifier, pemutih, perasa, semua bahan rentan di selusupi bahan tidak Halal. Karena itu pengetahuan mengenai bahan baku Halal itu sangat penting terutama bagi para wanita yang kerap kali berbelanja untuk rumah tangga.

Baca juga : Titik kritis kehalalan cokelat

7. Semua produk yang mengandung kode E adalah haram?

Kode E bukan pertanda suatu produk mengandung bahan haram. Karena kode E adalah kode bahan aditif. Dimana bahan aditif untuk produk bisa terbuat dari nabati atau hewani. Untuk hewani sendiri tidak selalu babi, melainkan bisa juga terbuat dari sapi, kambing, atau hewan halal lainnya.

Baca juga : Halal kah kode E?

Hal ini pernah terjadi dan menjadi viral ketika suatu produk es krim ternama di Indonesia menulis salah satu bahan mengandung kode E lalu diunggah seorang netizen bahwa produk tersebut mengandung kode E dari babi sedangkan di kemasan tertera jelas logo halal MUI. Hal ini justru akhirnya menimbulkan fitnah, karena banyak yang mengira logo Halal MUI yang dimiliki merk es krim tersebut tidak valid. Padahal di samping kode E sudah tertera tulisan “plant origin” yang berarti terbuat dari tumbuhan dan produk tersebut Halal dikonsumi.

Karena itu, logo Halal sangat memudahkan kita memilah, apakah produk yang akan kita konsumsi benar-benar Halal.

Nah, demikian 7 kesalahan persepsi yang seringkali dilakukan masyarakat yang mengakibatkan kita menjadi agak sulit mendeteksi dan memilah produk Halal. Karena itu sikap hati-hati dan teliti haruslah disertai pengetahuan yang cukup mengenai bahan, aturan dan persepsi-persepsi yang salah sebagaimana di atas tadi.

Semoga artikel ini bisa membantu.

Fan page             :  HALAL CORNER

FB Group             :  

Website               :  www.halalcorner.id

Twitter                 :  @halalcorner

Instagram            :  @halalcorner

Redaksi : RRM / SZB[:en]HALALCORNER.ID, JAKARTA – When a product has had a Halal certificate, every Muslim will feel safe to consume the product. But sometimes, there are perceptual mistakes in the halal product.

Here will be presented 7 misperceptions that are widely circulated in the community.

  1. The validity of halal certificate

Many consider that if a brand has had a Halal certificate, then forever will be Halal. But, actually is a halal certificate MUI only valid for 2 years and after that should be extended if there is no change in composition and it must be re-audited if there is a change in raw materials or process.

In fact, in the other countries almost do more stringent provisions with the validity of halal certification for 1 year. A brand that originally has a Halal certificate then can be lost or not have a Halal certificate again because the next audit contains materials that do not pass the Halal examination.

That’s why we are always careful to check the Halal logo on the packaging because the brand that does not have Halal certificate certainly cannot put halal logo again.

  1. National and province Halal Certificate

Often many brands that have a lot of branches in the region but have not an initiative to make Halal nationally applicable in all outlets or is called SJH (halal assurance system). Usually, there are some outlets that take the initiative for making Halal to its own outlet which halal-only applies in certain provinces.

However, the misperception that occurs is when the province’s local certificate is recognized as nationally. This becomes misguided if the similarity of materials does not mean then all outlets become Halal. Because to have a national halal certificate, halal is not only checked from the material but the process and packaging/presentation.

Therefore, if in other outlets there is the process and presentation is contaminated something that is not Halal, then the Halal certificate in other province outlets cannot guarantee. Because of that, a brand with many outlets is recommended to have a national halal certificate in order to ensure halal of the entire outlet. Thus, the customer will be calmer eating at any branch outlet.

  1. Halal materials do not guarantee Halal product

A product can claim vegan or herbal with all natural ingredients Halal. Or claim does not contain pork and alcohol. But sometimes, in the process of product produce alcohol so it becomes not Halal to consumption.

Examples are angciu cooking, angciu made from rice tapai essence, tapai is halal food but when it becomes angciu its product will contain alcohol and become khamr. Therefore, angciu is not Halal to be consumed.

Otherwise, in the process, the product is located with the same as other products containing Haram materials, and then there is contamination that causes the product to be not Halal. Therefore, now many herbal/vegan products make halal certificates on their products to ensure consumers’ comfort in consuming them. So, Halal certification makes people easier to search for Halal products from outside to inside.

  1. Halal variant does not guarantee all product to be Halal.

Generally, it happens to brands with many product variants. It is like cosmetics, the existence of Halal certification in some variants such as lipstick or skincare does not guarantee all products under the same brand will be halal, because sometimes in one brand there are products that are registered halal certification and some are not.

Similarly, the food is in the restaurant, it could be Halal only tomato sauce or coffee and does not mean have the halal-certified restaurant. But only the attached products are definitely halal.

It has also happened to the bakery brand, apparently at that bakery only bread variant that is Halal, while the cake is still using rhum in its manufacture, so for cake products do not include Halal products even for bread variants already have Halal certification.

  1. Halal Cosmetics, all is legitimate for wudhu?

Halal cosmetics which get Halal is the product, does not mean eliminate the nature of the product. This is valid for any waterproof product. For example, kutek and mascara. In terms of products, this product may have a halal certificate. But it caused nature is waterproof; water cannot penetrate the skin when wudhu. Although it does not matter if it used to worship.

The solution is easy, for example by using cosmetics that can be penetrated ablution water, using makeup that faded when flushed to water is making it easy to ablutions. Or it can also remove the makeup first before doing wudhu.

Read also: Maya, Halal nail polish

  1. Zero alcohol = Halal?

Now many the product claims zero alcohol. It is said to facilitate the people who want to taste the alcoholic drink to be enjoyed without getting drunk. As the regulation of MUI that a product whose name resembles a Haram cannot get a Halal certificate.

Read also: Zero alcohol champagne

When going to check the Halal of a food and cosmetics, if not use Halal logo usually people will do a check on the raw material contained in the packaging. Moreover, only suspected contains pigs such as porcine, swine, pork or boar. Otherwise, it contains alcohol or rhum or other alcoholic products.

Actually, we can also look through other materials. Such as dyes, emulsifiers, bleach, flavorings, all susceptible material in the infiltrated material is not halal. Therefore knowledge of halal raw materials, it is very important especially for women who often times shop for households.

Read also: Critical point of halal chocolate

  1. All products containing E code are haram?

Code E is not a harbinger of a product containing Halal substances. Because code E is an additive material code.Where additives for products can be made from vegetable or animal. For animals, themselves are not always pigs, but it can also be made from cows, goats, or other halal animals.

Also read: Are code E Halal?

This is happened and became viral when a famous ice cream product in Indonesia wrote one of the ingredients containing the code E then uploaded a netizen that the product contains the E code of pig while in the packaging is clear MUI halal logo. Moreover, it causes of slander, because many who think Halal MUI logo in the brand of ice cream is not valid. Whereas in addition to the code E has written “plant origin” which means made of plants and products are Halal to consumed. Therefore, the Halal logo is very easy for us to sort out, whether the products we will consume really Halal.

Well, there are 7 misperceptions that are often made by the society which caused us becoming difficult to detect and sort out Halal products. Therefore, careful and thorough must be accompanied by sufficient of knowledge about the material, rules and wrong perceptions as above.

Hope this article can help.

Fan page             :  HALAL CORNER

FB Group             :  

Website               :  www.halalcorner.id

Twitter                 :  @halalcorner

Instagram            :  @halalcorner

Red : RRM / SZB[:]

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!