HALALCORNER.ID,BANJARMASIN–Cokelat seringkali menjadi oleh-oleh atau pemberian yang sangat menyenangkan bagi banyak orang. Tentu saja, karena cokelat nyaris di gemari semua kalangan dan semua usia. Ditambah lagi, kesan yang di timbulkan dari pemberian cokelat tersebut, manis seperti rasa cokelatnya.

Apalagi jika kita berkunjung ke negara-negara luar, seakan tidak pernah habis rasa penasaran kita untuk mencicipi dan membandingkan selezat apa cokelat dari negara tsb. Tapi kadang orang mengabaikan kehalalan dari cokelat oleh-oleh tsb. Pada umumnya orang hanya berpatokan halal pada alkoholnya. Memang, cokelat lezat lazimnya mengandunh alkohol dalam bentuk rhum sebagai pewangi penambah citarasa. Padahal,cokelat memiliki titik kritis yang lain juga selain alkohol.

Halal corner merangkum beberapa titik kritis yang perlu diperhatikan jika ingin membeli cokelat tanpa label halal.

  1. Alkohol

Cokelat import atau buatan luar negeri yang tidak memiliki logo halal terkadang memasukkan rhum atau essense perisa ke dalan cokelatnya. Tak heran, kadang begitu dibuka bungkusnya, langsung tercium aroma cokelat yang sangat mengundang selera. Dan tentu saja, makanan mengandung alkohol diharamkan bagi umat muslim

  1. Lesitin

Cokelat pastinya menggunakan emulsifier dalam pengolahannya. Emulsifier ini ada yang berupa lesitin. Yang patut diteliti adalah, apakah lesitin yang digunakan lesitin nabati atau hewani. Jika nabati umumnya menggunakan lesitin kedelai. Dan jika hewani biasanya menggunakan babi, karena apa? Lesitin babi menghasilkan produk yang lebih lembut teksturnya dan harganya relatif murah. Beruntung sekali kita jika dalam komposisi menuliskan soy lechitine atau soya lecithin karena menunjukkan berbahan kedelai. Namun kita patut waspada jika tanpa label halal dan hanya ditulis lecitin saja.

  1. Lemak

Lemak juga salah satu jenis emulsifier untuk cokelat yang biasanya berfungsi sebagai stabilizer. Hampir sama seperti lecitin, lemak atai stabilizer yang digunakan harus kita pastikan berbahan nabati atau hewani. Umumnya cokelat menuliskannya dalam bentuk kode E. Dimana kita ketahui bahwa kode E tidak selalu berbahan babi, melainkan ada juga yang berbahan Nabati seperti yang kita temukan pada produk dengan kode E yang disertifikasi halal MUI umumnya berbahan lemak nabati atau juga lemak dari sapi.

  1. Susu

Cokelat dengan varian milk (susu) umumnya sudah pasti mengandung susu. Dan harus kita ketahui juga susu yang digunakan biasanya adalah susu bubuk. Jadi selain harus diketahui susu dari hewan apa, juga harus diperhatikan dalam proses menjadikan susu bubuk apakah susu tersebut sudah pasti halal atau terkontaminasi hal lain yang diharamkan.

  1. Gula

Pada bahan, gula memang dari bahan nabati, tapi pada proses produksinya apakah gula dibuat menggunakan pemutih, halalkah pemutihnya? Halalkah prosesnya?

Demikian 5 bahan yang harus dicermati ketika akan memutuskan membeli cokelat. Selain teliti komposisi, hal lain yang harus kita perhatikan namun cukup sulit dilakukan adalah mengetahui proses dan packagingnya. Karena kriteria halal bukan cuma bahan, melainkan proses dan pengemasan juga. Bagaimana jika cokelat tersebut diproduksi bersama dengan produk lain yang terkontaminasi bahan haram.

Terkesan sulit, dan islam bukanlah agama yang menyulitkan, bukan? Cara mudahnya tentu saja dengan membeli cokelat yang sudah memiliki label halal dari lembaga halal yang ada di negara asalnya. Atau, jika di produksi dalam skala rumah tangga maka cara termudahnya adalah dengan menanyakan langsung kepada penjual, halalkah cokelat tsb. Dinegara dengan jumlah wisatawan yang cukup banyak, umumnya sudah mengetahui perihal halal haram untuk umat muslim. Bahkan banyak pedagang yang biasanya langsung memberikan informasi perihal halal haram produknya apabila melihat pengunjung yang menggunakan hijab atau pakaian muslim.

Jadi, jangan lupa untuk selalu teliti sebelum memberikan kado atau oleh-oleh cokelat.

Redaksi: HC/ Ruli Retno

Bagaimana pendapat kalian?