Baru-baru ini, matcha menjadi salah satu bahan makanan dan minuman yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari matcha latte, es krim matcha, hingga dessert berbasis matcha, tren ini dengan cepat merambah kafe, supermarket, hingga lini masa media sosial. Matcha juga sering disebut sebagai superfood, karena kaya akan antioksidan seperti katekin, klorofil, dan quercetin, serta mengandung L-theanine
Apa Itu Matcha?
Matcha adalah bubuk teh hijau yang digiling sangat halus. Berbeda dengan teh hijau biasa yang diseduh lalu dibuang daunnya, matcha dikonsumsi bersama seluruh daun tehnya. Hal ini membuat matcha mengandung lebih banyak antioksidan, termasuk EGCG yang dikenal membantu detoksifikasi dan mendukung sistem kekebalan tubuh. Karena manfaatnya yang beragam, matcha sering disebut sebagai “superfood” di dunia minuman sehat.
Proses pembuatan matcha cukup kompleks. Daun teh tencha ditanam dalam kondisi teduh selama 20–30 hari sebelum dipanen. Teknik ini meningkatkan kadar klorofil dan menghasilkan warna hijau cerah serta rasa umami yang khas. Setelah dipanen, daun dikukus untuk mencegah oksidasi, dikeringkan, dibersihkan dari batang dan urat, lalu digiling perlahan menggunakan batu granit hingga menjadi bubuk halus. Proses ini bertujuan menjaga kandungan nutrisi dan rasa alami matcha.
Manfaat Kesehatan Matcha
Matcha dikenal kaya akan antioksidan, terutama katekin, klorofil, dan quercetin, serta mengandung L-theanine, yaitu asam amino yang berperan dalam meningkatkan konsentrasi dan memberi efek tenang tanpa membuat mengantuk. Karena itulah, matcha digolongkan sebagai superfood.
Berikut beberapa potensi manfaat kesehatan dari matcha:
- Menurunkan kolesterol dan tekanan darah. Katekin dalam matcha, terutama EGCG, terbukti membantu menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol “jahat”) dan tekanan darah. Kandungan bioflavonoid seperti rutin juga mendukung kesehatan kardiovaskular.
- Bersifat anti-inflamasi dan kaya polifenol. Polifenol dalam matcha memiliki efek antioksidan dan anti-inflamasi yang membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan oksidatif.
- Meningkatkan fokus dan kewaspadaan. Kandungan L-theanine di dalam matcha berperan menstimulasi gelombang alfa di otak, yang membantu meningkatkan fokus mental tanpa efek gelisah seperti pada kafein biasa.
- Mendukung sensitivitas insulin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi antioksidan dan polifenol seperti yang ada dalam matcha dapat membantu meningkatkan respons insulin dalam tubuh.Berpotensi mendukung kesehatan otak.
- Konsumsi teh hijau secara rutin dikaitkan dengan penurunan risiko gangguan kognitif seperti demensia dan Alzheimer, dan manfaat ini juga diyakini berlaku untuk matcha.
- Mendukung pembakaran lemak saat berolahraga. Kandungan kafein dan antioksidan dalam matcha membantu meningkatkan oksidasi lemak saat aktivitas fisik, yang dapat mendukung program penurunan berat badan.
Namun, perlu diingat bahwa beberapa klaim kesehatan masih memerlukan penelitian lanjutan pada manusia. Selain itu, antioksidan dalam matcha sensitif terhadap panas, sehingga jika diseduh dengan air terlalu panas atau digunakan dalam makanan yang dipanggang, efek antioksidannya bisa menurun.
Apakah Matcha Halal?
Secara alami, matcha murni bersifat halal karena berasal dari daun teh hijau. Namun, status kehalalannya bisa berubah ketika matcha diolah menjadi minuman atau makanan modern. Produk seperti matcha latte, puding matcha, atau es krim matcha umumnya tidak hanya mengandalkan bubuk matcha sebagai bahan utama, tetapi juga melibatkan berbagai bahan tambahan yang perlu diperhatikan dari sisi kehalalan.
Salah satu bahan yang sering digunakan adalah creamer, baik dairy maupun non-dairy. Creamer jenis ini dapat mengandung lemak hewani atau komponen emulsifier seperti kaseinat, yang berasal dari susu dan berpotensi mengandung unsur non-halal jika tidak diproses sesuai standar syar’i. Selain itu, banyak produsen menggunakan perisa tambahan (flavouring) untuk memperkuat rasa dan aroma matcha. Perisa ini bisa mengandung alkohol sebagai pelarut atau berasal dari turunan hewani yang tidak jelas status kehalalannya.
Bahan lain yang juga patut diwaspadai adalah gelatin, terutama pada dessert matcha seperti puding, mochi, atau kue. Gelatin sering digunakan sebagai pengental atau penstabil, namun sumbernya bisa berasal dari babi atau hewan lain yang tidak disembelih secara halal. Tanpa sertifikat halal yang jelas, kehadiran gelatin dalam produk tersebut bisa menjadikan statusnya syubhat atau bahkan haram.
Tren matcha memang tak terbendung — dari coffee shop hingga supermarket, semuanya berlomba-lomba menghadirkan inovasi rasa matcha. Namun sebagai konsumen Muslim, kita perlu lebih cermat. Ingat, tidak semua bahan . Bijak memilih bukan hanya soal rasa, tapi juga soal nilai dan tanggung jawab terhadap apa yang kita konsumsi.
Jangan asal ikut tren, pastikan produk matcha favoritmu benar-benar halal!