Program Makan Bergizi Gratis: Dari Impor Ilegal Hingga Nampan Makan Mengandung Babi

Photo of author

Program Makan Siang Bergizi Grais (MBG) merupakan program makan siang gratis yang diberlakukan pada kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Program ini ditargetkan menjangkau 82,9 juta siswa dengan harapan meningkatkan gizi anak sekolah Indonesia.

Namun, program andalan ini ternyata menyimpan persoalan yang serius. Menurut laporan investigasi Indonesia Business Post (IBP), sejumlah pabrik di Chaoshan, Guangdong, Tiongkok diduga memasok jutaan nampan makan untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hasil investigasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian nampan yang diduga beredar di sekolah-sekolah tidak hanya bermasalah dari sisi regulasi impor, tetapi juga menimbulkan keraguan terkait status kehalalannya.

Impor Bermasalah dan Produksi Lokal Diremehkan

Dilansir dari IBP, pemerintah Indonesia sebelumnya memberlakukan larangan pada impor nampan makan melalui Permendag No. 8 Tahun 2024. Namun, aturan tersebut dicabut pada Juni 2025, yang membuka kembali pintu impor. Ironisnya, meski larangan masih berlaku pada periode Januari –Juni 2025, jutaan nampan tetap masuk ke Indonesia melalui penyelundupan langsung dan penyamaran kode HS (sistem klasifikasi internasional untuk produk ekspor impor).

Risiko Kesehatan dari Nampan Murah

IBP menyoroti bahwa nampan yang digunakan dalam program MBG tidak semuanya menggunakan stainless steel tipe 316 dan 304. Ada jenis stainless steel tipe 201 yang harganya murah, tetapi tidak direkomendasikan untuk kontak dengan makanan. Meski sudah adanya larangan penggunaan wadah makan yang tidak food grade dari pemerintah, pengawasan yang tidak konsisten ditegakkan akan memudahkan wadah yang tidak sesuai standar dapat beredar.

Jika hal ini dibiarkan, paparan mangan pada wadah stainless steel yang tidak sesuai food grade dalam jangka panjang dapat menyebabkan tremor, gangguan saraf, hingga kerusakan organ vital.

Dugaan Lemak Babi dalam Produksi Nampan

indonesiabusinesspost.com

Selain pada masalah kesehatan, IBP menyoroti adanya indikasi bahwa produksi nampan di beberapa pabrik di Chaoshan terkontaminasi oleh minyak babi dalam pelumas yang digunakan untuk kepentingan performa mesin.

Fakta ini memunculkan pertanyaan besar soal status halal dari nampan yang digunakan dalam program MBG.

Program MBG sejatinya bertujuan mulia: memastikan gizi anak sekolah terpenuhi. Namun, temuan investigasi IBP menunjukkan adanya risiko ganda yang perlu segera ditangani pemerintah. Jika tidak segera diatasi, persoalan ini bukan hanya akan merusak kredibilitas program MBG, tetapi juga bisa mengancam kepercayaan masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam melindungi generasi muda.

Tinggalkan komentar

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial