Belakangan ini, dunia media sosial dipenuhi dengan unggahan tentang sebuah cafe bergaya vintage-klasik di kawasan Canggu, Badung, Bali. Kafe ini, yang dikenal dengan nama Gigi Susu Cafe, menjadi magnet bagi para pemburu spot estetik berkat bangunan ikoniknya yang kerap muncul di linimasa TikTok dan Instagram.Bagi banyak orang, keunikan desain dan suasana tempat ini menjadi alasan untuk berkunjung. Namun, di balik popularitasnya, terdapat fakta penting yang perlu menjadi perhatian khusus, terutama bagi umat Muslim.
Menu Mengandung Pork
Berdasarkan menu resmi yang diunggah Gigi Susu Cafe, terdapat hidangan yang mengandung daging babi, ditandai dengan simbol “P” (contains pork). Beberapa contohnya adalah croissant dengan isian ham dan burger yang menggunakan pulled pork.Bagi Muslim, daging babi bukan sekadar makanan yang dihindari, tapi termasuk najis berat yang statusnya haram secara mutlak. Lebih jauh lagi, risiko kontaminasi silang dengan peralatan dan permukaan dapur bisa membuat makanan lain ikut tidak halal.
Pilihan Minuman yang Perlu Diwaspadai
Selain kopi dan mocktail, Gigi Susu Cafe juga menyediakan berbagai minuman beralkohol, mulai dari cocktail seperti Lychee Martini, hingga minuman beralkohol murni seperti gin, rum, whiskey, dan wine.
Dalam ajaran Islam, larangan khamr mencakup seluruh jenis minuman memabukkan tanpa melihat kadar atau campurannya. Bahkan, sekadar berada di tempat yang menyajikan khamr juga termasuk perbuatan yang dilarang.
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia duduk di meja jamuan yang di situ disajikan khamr.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi – Hasan)
Larangan ini berlaku meski seseorang tidak meminumnya. Hikmahnya adalah agar seorang Muslim tidak terbiasa atau merasa nyaman dengan lingkungan yang mengandung kemungkaran, sekaligus menjaga identitas dan kehormatan dirinya.
Kontaminasi: Lebih dari Sekadar Isu Kebersihan
Kontaminasi di sini bukan hanya soal higienitas biasa. Dalam fiqih, membersihkan alat yang terkena najis berat seperti babi tidak cukup dengan sabun atau air panas, tetapi harus dicuci tujuh kali, salah satunya menggunakan tanah. Jika proses ini tidak dilakukan, ada kemungkinan peralatan makan tetap terkontaminasi.
Fenomena FOMO dan Pilihan yang Lebih AmanBanyak orang tertarik mengunjungi cafe viral karena penasaran dengan menunya, atau bahkan takut ketinggalan tren. Apalagi jika tampilannya estetik dan sering berseliweran di media sosial. Namun, bagi Muslim, pertimbangan utama bukan sekadar suasana atau foto Instagramable, tapi juga kehalalan menu yang sesuai syariat.
Kalau sebuah tempat jelas menyajikan daging babi dan minuman keras, menahan diri untuk tidak ikut fomo justru menjadi langkah yang bijak. Kita tidak rugi apa-apa jika melewatkan satu cafe viral, karena masih banyak pilihan tempat makan yang nyaman, fotogenik, dan terjamin kehalalannya.
Meskipun, tidak ada salahnya untuk mengunjungi tempat vira. Tapi ada baiknya mencari tahu terlebih dahulu tentang menu tempat tersebut. Keputusan untuk menghindari cafe yang menyajikan babi dan minuman beralkohol bukan berarti ketinggalan zaman, tetapi bentuk ketaatan yang membawa keberkahan.