HALALCORNER.ID, JAKARTA – Ahamdulillah lebaran akan tiba sebentar lagi. Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Di tengah kesedihan karena ramadhan tak lama lagi akan berpisah dengan kita, suka cita menyambut lebaran sudah mulai terasa. Qodarullah, tahun ini menjadi tahun kedua bagi kaum muslimin menjalani Idul Fitri. Sesuai anjuran pemetintah, tentunya banyak kaum muslimin yang melewatkan tradisi mudik. Meski demikian, keceriaan menyabut hari suci ini tidaklah berkurang termasuk menyiapkan hidangan istimewa yang senantiasa hadir setiap lebaran.

Salah satu menu favorit yang selalu hadir setiap lebaran adalah rendang. Kuliner khas Sumatera Barat yang kembali dinobatkan sebagai 50 makanan terbaik di dunia tahun 2021 versi CNN ini memang layak menjadi hidangan wajib dan ditunggu-tunggu. Tak ada yang menyangkal kelezatan olahan daging ini. Gurihnya daging sapi bercita rasa manis pedas yang kaya rempah siap menggoyang lidah siapapun juga. Rendang biasa disajikan dengan ketupat, opor ayam, sambal kentang goreng ditambah bawang goreng dan emping. Namun tentunya selain tetap menjaga kesehatan selama hiruk pikuk kemeriahan lebaran, ingat kolesterol yang terkandung dalam hidangan berlemak dan bersantan ya, semangat halal tak boleh luntur begitu saja.

Apa sih yang menjadi titik kritis kehalalan rendang??

Daging sapi yang digunakan dalam rendang tidak hanya aman dan baik untuk kesehatan, namun tentunya harus halal. Salah satu titik kritis kehalalan daging sapi yang digunakan adalah cara penyembelihannya. Menurut HAS 23103 penyembelihan hewan dilakukan dengan membaca basmallah, memotong 3 saluran yaitu esofagus, trakea dan 2 buluh darah arteri carotis dan tidak memotong medulla spinalis. Penyembelihan harus dilakukan dalam satu kali penyembelihan dan dilakukan cepat agar tidak menginduksi kesakitan yang berlebihan pada hewan. Selain itu, juru sembelih halal disyaratkan harus beragama islam, dewasa dan sehat jasmani dan rohani. Sedangkan alat yang digunakan harus tajam, mampu melukai hingga darah mengalir dan tidak terbuat dari kuku atau tulang. Daging yang diproduksi harus memenuhi syarat ASUH: Aman, Sehat, Utuh dan Halal.

Cara yang paling mudah mendapatkan daging sapi halal adalah menyembelih sendiri sehingga terjamin kehalalannya atau membeli daging di supermarket yang menjual daging sapi halal dan sudah mendapat sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bila membeli di pasar tradisional, pastikan daginng diperoleh dari RPH yang telah mendapat sertifikasi halal.

Selain itu, hindari daging oplosan dan daging gelonggongan yang marak di pasaran menjelang lebaran. Daging oplosan yang sering ditemui adalah daging sapi yang dioplos dengan daging kerbau atau daging babi. Secara fisik, daging oplosan dapat diketahui berdasarkan serat, warna dan tesktur. Daging kerbau mempunyai serat lebih kasar, sedangkan daging babi berserat lebih samar dengan kandungan lemak yang lebih banyak. Warna daging kerbau tidak terlalu pekat bila dibandingkan dengan daging sapi yang berwarna merah segar sedangkan daging babi cenderung berwarna lebih pucat. Dari segi tekstur, daging kerbau lebih kasar sedangkan daging babi lebih kenyal dan lembek.

Sapi gelonggongan merupakan bentuk animal abuse untuk meningkatkan berat daging dan tentunya secara syariah hal ini dilarang dan berstatus haram. Ciri daging sapi gelonggongan biasanya berwarna lebih pucat, tekstur lembek dan lebih berair.

HIdangan halal akan terasa lebih enak dan menyehatkan dan tentunya rendang yang disajikan insyaallah akan menambah keberkahan bagi Anda dan keluarga di hari raya.

Fan page                :  HALAL CORNER

FB Group               :  http://bit.ly/1SL4wQB

Website                 :  www.halalcorner.id

Twitter                   :  @halalcorner

Instagram              :  @halalcorner

 

Referensi : diolah dari berbagai sumber

Foto : detik.com

Redaksi : HC/IB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here