Hikmah Diharamkannya Babi

Photo of author

1. Mengkonsumsi daging babi yg baru dibunuh mempercepat timbulnya beberapa penyakit #HCFacts

2. Penyakit2 tsb adl radang usus buntu, kantong empedu, selaput lendir hidung, bisul2 dan lain lain #HCFacts

3. Tidak hanya daging babi yg baru, daging babi yg sdh dimasak dan diawetkan spt sosis pun tidak aman dari penyakit #HCFacts

4. Daging babi yang dihuni virus ini, ttp hidup walau sdh diolah. Ia hanya tidur untuk sementara smp menunggu wkt yg tepat utk aktif #HCFacts

5. Kpn wkt yg tepat? Yaitu stlh berada di medium yg membuatnya hdp spt kurangnya vitamin dan sinar matahari pd tubuh #HCFacts

6. Daging babi ternyata tdk cm bahaya bg manusia tp jg bagi binatang, pd anjing yg makan dging babi terjangkit bisul yg susah sembuh #HCFacts

7. Bahaya babi tlh sgt jelas, selain Islam, Nasrani dan Yahudi pun melarangnya #HCFacts

8. Bahkan seorang tabib ternama Sun See Mao yg hdp di zaman Dinasti Tang melarang makan daging Babi #HCFacts

9. Dlm bukunya Sheh Sen Lu: “Daging babi dpt merangsang penyakit2 lama, membuat mandul, penyakit tulang dan asma”

10. Mengapa berbagai penyakit dan virus mematikan yg berasal dr babi bs mudah beradaptasi dg manusia? #HCFacts

11. Pertama: DNA manusia dan babi hanya berbeda sedikit sekali sekitar 3% #HCFacts

12. Kedua: dlm tubuh babi terdpt PERV yaitu semacam virus yg berpotensi menyebarkan berbagai mcm penyakit #HCFacts

13. “..Sesungguhnya Allah mengharamkan kmu bangkai, darah, daging BABI, dan (hewan) yg disembelih selain nama Allah” (Al Baqarah:173) #HCFacts

14. Maha Benar Allah dg segala Firman-Nya… #HCFacts

2 pemikiran pada “Hikmah Diharamkannya Babi”

  1. Assalamualaikum…
    Mohon izin copy paste untuk buletin FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia), dimana buetin ini akan diberikan kepada peserta acara seminar FOKMA mengenai Everyday Halal living : Food, Health dan Body Care. InsyaALlah seminar ini akan mengundang Mbak Aisha sebagai salah satu pembicara. Sumber http://www.myhalalcorner.com akan kami tampilkan di buletin kami. jazakumullah khairan katsir.

    Balas

Tinggalkan komentar