Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan waktu yang sangat istimewa dalam Islam. Rasulullah ﷺ bahkan menegaskan bahwa amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah lebih dicintai Allah daripada hari-hari lainnya. Namun, bagaimana jika seorang wanita justru sedang haid saat memasuki sepuluh hari yang utama ini? Apakah ia tetap bisa meraih keutamaan dan pahala yang besar?
Mengapa 10 Hari Pertama Dzulhijjah Begitu Istimewa?
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shalih yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.”
(HR. Bukhari no. 969)
Banyak wanita yang merasa gelisah, bahkan sedih, ketika mendapati dirinya tidak bisa ikut berpuasa, membaca Al-Qur’an, atau menunaikan shalat selama hari-hari penuh keutamaan ini. Namun sesungguhnya, Islam tidak membatasi ibadah hanya dalam bentuk fisik semata. Ada banyak cara bagi wanita haid untuk tetap terhubung dengan Allah dan mengisi hari-hari awal Dzulhijjah dengan amal shaleh yang penuh makna.
Memperbanyak Dzikir
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Dzikir adalah ibadah yang tak mengenal batasan waktu dan kondisi. Bagi wanita yang sedang haid, ini adalah salah satu jalan terbaik untuk tetap menjaga ruhiyah dan keintiman dengan Allah. Mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dan berbagai kalimat thayyibah lainnya bukan hanya bentuk pengingat, tapi juga penenang hati di saat galau tak bisa shalat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mengucapkan ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ seratus kali dalam sehari, niscaya dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.”
(HR. Bukhari no. 6405)
Tetap Berdoa
Doa adalah senjata orang beriman dan menjadi jalan yang terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin dekat dengan Allah. Terlebih, doa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat berpeluang dikabulkan.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Wanita yang sedang haid tetap bisa bangun di sepertiga malam, mengangkat tangan, dan memohon ampun serta kebaikan dari Allah.
Mendengarkan dan Merenungi Al-Qur’an
Meskipun ada perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya menyentuh mushaf saat haid, mendengarkan lantunan Al-Qur’an tetap dianjurkan. Dengarkan bacaan dari qari favorit, atau simak tafsir dan makna dari ayat-ayat pilihan. Ini bisa menjadi sarana untuk tetap terkoneksi dengan firman Allah di hari-hari mulia ini.
Bersedekah dan Membantu Sesama
Sedekah adalah amalan yang sangat dianjurkan di bulan Dzulhijjah. Rasulullah ﷺ dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, dan lebih dermawan lagi di waktu-waktu utama.
Bersedekah tidak harus besar. Bahkan makanan ringan untuk orang lain, traktiran kecil, atau transfer Rp5.000 sekalipun—jika dilakukan ikhlas—bisa bernilai besar di sisi Allah.
Mendukung Orang yang Sedang Puasa
“Siapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.”
(HR. Tirmidzi no. 807)
Karena tidak bisa ikut puasa, wanita haid bisa tetap berperan dalam membantu orang lain beribadah. Misalnya:
- Menyiapkan makanan untuk keluarga yang puasa.
- Membantu kebutuhan harian orang tua atau teman yang sedang berpuasa.
- Menjadi support system untuk orang lain dalam beribadah.
Berbuat Baik kepada Orang Tua, Suami, dan Sesama
Berbuat baik dan memperbaiki hubungan sosial termasuk bentuk ibadah yang besar pahalanya. Rasulullah ﷺ pernah menyebut bahwa akhlak yang baik adalah bagian dari keimanan yang tinggi. Maka, manfaatkan momen ini untuk:
- Meminta maaf pada keluarga yang pernah disakiti.
- Mendoakan orang tua dengan sungguh-sungguh.
- Menjaga lisan dan tidak menyakiti orang lain.
Haid Bukan Halangan untuk Dekat dengan Allah
Haid bukan tanda bahwa Allah murka atau menolak kita. Itu adalah ketetapan Allah yang penuh hikmah. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha saat beliau bersedih karena haid ketika haji, bahwa ini adalah takdir dari Allah untuk anak-anak Adam.
Maka, jangan biarkan haid menjadi penghalang untuk beribadah. Justru, cari jalan untuk tetap terhubung dengan Allah. Bukalah pintu-pintu pahala dari sisi yang lain. Yakinlah, Allah Maha Melihat usaha kita, sekecil apa pun itu.
Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita di 10 hari pertama Dzulhijjah, dalam keadaan apapun.