HALALCORNER.ID, KUALA LUMPUR—Malaysia berencana menjadi negara yang memproduksi vaksin halal terbesar di dunia. Hal ini ditandai dengan adanya nota kesepahaman antara AJ Pharma dengan Halal Development Corporation berupa investasi senilai 300 juta USD untuk menyediakan fasilitas dan infrastruktur di Malaysia. AJ Pharma sendiri adalah sebuah perusahaan farmasi dari Saudi Arabia yang berada di bawah Al-Jomaiyah Group. Industri vaksin halal ( HVI) menjadi penting untuk didirkian dalam menjawab tantangan sosial-hukum yang kompleks, yakni etika keagamaan, keamanan dan manufaktur dan masalah sosial, sebagaimana disampaikan oleh peneliti dari Institut Internasional Studi Islam Tingkat Tinggi ( IAIS) Malaysia, Ahmad Badri Abdullah.Diharapkan tahun depan, rencana Malaysia menjadi produsen vaksin halal terbesar di dunia akan terwujud.

Ada perbedaan tingkat penerimaan terhadap standar halal di berbagai negara. Sebagian membatasi standar halal dalam hal larangan produk berbahan dasar babi dan alkohol yang sudah jelas dinyatakan dalam Al-Qur’an, dan sebagaian lain membuat standar halal berdasarkan proses, bahan baku hingga manufaktur. Misalnya penggunaan vaksin sendiri di beberapa negara dilarang namun diizinkan dalam batas tertentu di negara lain. Penggunaan alkohol dalam pendapat sebagian ahli hukum islam juga dilarang kecuali hanya sebagai katalisator.

Dalam penerapan pembuatan produk vaksin, terdapat kerumitan dalam prosesnya dimulai dari skala laboratorium hingga produksi skala besarnya. Bahkan dibutuhkan setidaknya 9-11 tahun untuk dapat memproduksi vaksin baru. Selain waktu yang panjang, biaya pembuatan vaksin yang sesuai dengan persyaratan dan fasilitas yang syar’i juga sangat besar, yakni bisa mencapai 750 juta USD (nst.com.my). Proses pengangkutan yang terpisah dari produk non-halal juga mempengaruhi biaya di pada logistiknya, demikian pula tenaga ahil yang terlatih juga masih perlu ditingkatkan. Sertifikasi produk farmasi halal yang panjang prosesnya akan mempengaruhi pemasaran dan penjualan produk baru.

Secara sosial, menurut Badri, terdapat kecenderungan dari para orangtua yang menolak vaksinasi terhadap putra putri mereka. Gerakan antivaksin global dan akses informasi yang tak terfilter juga mempengaruhi tren anti vaksin di Malaysia.

Sumber: Republika

Redaksi: HC/EDR

1 COMMENT

Bagaimana pendapat kalian?