Dengan adanya pandemi Covid 19 yang telah berlangsung selama hampir satu tahun, masyarakat mencari berbagai alternatif untuk meningkatkan imunitas tubuh. Salah satu alternatif tersebut adalah dengan mengkonsumsi produk probiotik siklus yang diklaim dapat membantu pencegahan dan pengobatan Covid 19 serta gejala serupa lainnya.

Apakah probiotik siklus itu?

Probiotik merupakan mikroorganisme baik seperti bakteri, virus, fungi maupun cacing yang bermanfaat organisme lain atau inangnya. Probiotik bekerja dengan menyeimbangkan jumlah bakteri baik dan bakteri jahat khususnya dalam sistem pencernaan. Probiotik siklus juga turut membantu memperbaiki sel RNA atau DNA yang rusak. Probiotik banyak ditemukan dalam makanan dan minuman fermentasi seperti tempe, acar, kombucha, dark chocolate, kimchi, yogurt atau produk fermentasi lain yang tidak melewati proses pemanasan seperti pasteurisasi atau pemanggangan. Beberapa bakteri dan jamur yang termasuk dalam probiotik adalah Lactobacillus, Saccharomyces boulardii dan Bifidobacterium.

Probiotik dikenal sebagai antibiotik dan antivirus alami yang dapat membantu menekan bakteri buruk. Probiotik siklus merupakan kumpulan probiotik yang terdiri dari mikroba positif, mikroba negatif (patogen), komensal (makhluk hidup bersel satu yang hidup dengan makhluk hidup lain secara berdampingan), aerob (probiotik yang memerlukan oksigen), anaerob (probiotik yang tidak memerlukan oksigen) yang hidup dalam satu ekosistem dan berkembang biak secara berdampingan dengan komposisi tertentu membentuk suatu siklus keseimbangan. Probiotik siklus menghasilkan nutrien berupa asam amino sebagai zat samping hasil dari keseimbangan yang diciptakan oleh ekosistem probiotik dalam tubuh manusia. Dan sejatinya probiotik siklus telah ada secara alami dalam tubuh sejak manusia lahir. Kini probiotik siklus banyak diproduksi sebagai suplemen makanan yang berfungsi untuk membantu menjaga dan memelihara kesehatan.

Titik Kritis Kehalalan Produk Probiotik Siklus

Produk probiotik siklus merupakan salah satu produk pangan mikrobial yang diperoleh melalui proses fermentasi. Proses fermentasi merupakan proses biologis. Dalam rangkaian prosesnya, ada beberapa tahapan yang memungkinkan status kehalalan produk tersebut berubah. Titik kritis kehalalan proses fermentasi meliputi tempat penyimpanan strain mikroba, sumber protein dan enzim untuk menghidrolisis, media inolulum dan media produksi.  Selain itu dalam proses fermentasi sangat mungkin ditambahkan bahan lain seperti anti busa, pengatur atau perangsang pertumbuhan atau bahan adsorpsi.

Berdasarkan Komisi Fatwa MUI, penggunaan atau persentuhan bahan dengan unsur babi dan turunannya pada tahap manapun dalam proses fermentasi akan menjadikan status produk hasil fermentasi tersebut menjadi tidak halal. Sedangkan untuk bahan haram selain babi dan turunannya serta bahan najis, kehalalan produk bergantung pada proses hilir yang harus menjamin terpisahnya bahan haram dan bahan najis tersebut dari produk fermentasi.

Selain bermanfaat bagi kesehatan, umat muslim dituntut untuk cerdas dan cermat dalam memilih produk yang status kehalalannya sesuai dengan tuntunan syariah dan telah ditetapkan secara legal oleh lembaga yang berwenang. Tentunya status kehalalan suatu produk menjadi hal utama dan sangat penting dalam mempertimbangkan pemilihan produk yang akan dikonsumsi. Inilah kaidah utama yang harus dipahami dan diterapkan umat muslim.

HC/IB

Fan page                :  HALAL CORNER

FB Group               :  http://bit.ly/1SL4wQB

Website                 :  www.halalcorner.id

Twitter                   :  @halalcorner

Instagram               :  @halalcorner

 

Referensi : dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here